Apakah Gempa dan Gunung Api Saling Berhubungan?

Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di pulau-pulau yang memiliki aktivitas kegempaan dan gunung api seperti di Jawa dan Sumatera, pertanyaan apakah gempa bumi berkaitan dengan meningkatnya aktivitas gunung api merupakan salah satu pertanyaan yang mengundang rasa penasaran. Bukan suatu kebetulan sepertinya bahwa pasca tsunami Aceh pada tahun 2004 aktivitas gunung api dan kegempaan meningkat di wilayah ini.

Di sebagaian masyarakat awam, berkembang rumor bahwa bila ada gempa maka gunung api akan meletus begitu juga sebaliknya. Praduga semacam ini wajar saja berkembang, mengingat kita tinggal di daerah yang rawan bencana dan masih minim pengetahuan kebencanaan. Karena itu, tulisan singkat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara sederhana yang menerangkan perbedaan antara peristiwa gempa bumi akibat aktivitas letusan gunung api (vulkanik) dan gempa bumi tektonik akibat pergerakan lempeng bumi serta hubungan yang terjadi diantara gempa bumi dan gunung api.

Jenis gempa bumi
Mengacu pada referensi ilmiah, ada korelasi kuat terjadinya peningkatan kegiatan kegunungapian dengan gempa bumi. Karena itu, para pakar sering mengelompokkan gempa bumi dalam dua jenis yaitu  gempa tektonik dan gempa vulkanik. Teori lempeng tektoni (plate tectonic) menjelaskan bahwa bumi terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan yang terletak paling atas permukaan bumi sering dinamakan dengan sebutan kerak bumi (crust). Lapisan ini memiliki karater lapisan yang keras karena terbentuk dari berbagai jenis batuan.

Earthsplates

Lempeng tektonik utama yang ada di permuakan bumi

Kalau diperhatikan secara fisik maka kerak bumi sebenarnya terpecah dalam beberapa lempengan besar dan kecil. Lempeng tersebut walau terlihat diam, sebenarnya salaing bergerak relatif satu dengan yang lain dengan kondisi seolah-olah mengapung seperti rakit di atas lapisan yang cair, pekat, dan sangat panas yang disebut sebagai lapisan mantel. Pergerakan mereka terjadi dengan arah yang berbeda-beda, ada yang saling mendekat, ada yang saling menjauh, dan ada pula yang saling bersisi-sisian. Fenomena interaksi antar lempeng tektonik tersebut mengakibatkan munculnya tekanan gaya stress dan strain (tekanan dan tarikan) pada lempeng. Pada saat tertentu terjadi akumulasi stress pada lempeng sehingga terlepaslah energi yang sangat besar sehingga menjadi gempa bumi.

6306406359_c836645820

Aktivitas magma di dalam perut gunung api menyebabkan gempa 

Di pihak lain gempa vulkanik berasal karena munculnya aktivitas di kantong magma atau lava panas yang ada di dalam perut gunung api. Fenomena gempa vulkanis ini sangat jarang dirasakan oleh masyarakat secara langsung karena intensitasnya yang sangat kecil. Biasanya hanya dapat diketahui menggunakan alat seperti seimsmograph yang terpasang di sekitar gunung api yang aktif. Gempa vulkanis baru dapat dirasakan bila terjadi letusan gunung api yang hebat. 

krak

Krakatau sebelum terjadi letusan di tahun 1883

Ambil contoh salah satu letusan terdahsyat dalam sejarah umat manusia, yaitu letusan krakatau tahun 1883 di Selat Sunda yang terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Letusan gunung api menyebabkan timbul kegoncangan di sekitarnya serupa gempa bumi. Berdasarkan catatan sejarah, suaranya saja bisa terdengan hingga 5000 km seperti letusan meriam dan berakibat pada munculnya tsunami setinggi 36 meter akibat longsoran badan gunung akibat letusan yang dahsyat.

Karena sangat sulitnya mendeteksi gempa vulkanik tanpa peralatan rekam seismograf maka studi yang rinci terkait aktivitas gempa vulkanik sangat diperlukan agar tidak salah dalam menarik kesimpulan saat gempa bumi terjadi.

volcano_displacement_sml

Bertumbuhnya volume magma di bawah perut gunung api menimbulkan rekahan yang memicu gempa

Ahli gunung api dari Jepang bernama Minakami (1974) mengklasifikasi gempa vulkanik menjadi 4 jenis, yaitu gempa vulkanik tipe A, tipe B, gempa letusan, dan gempa tremor. Gempa vulkanik tipe A memiliki sumber dari bawah gunung api di kedalaman sekitar 1 – 20 km dan penyebab gempa ini adalah adanya magma yang naik ke permukaan disertai adanya rekahan. Karakter khas dari gempa ini adalah memiliki waktu tiba gelombang primer (gelombang P) dan gelomban sekunder (gelombang S) yang mudah diamati dengan jelas.

Sebaliknya gempa vulkanik tipe B hanya muncul dari kedalaman dibawah 1 km dari kawah gunung api yang aktif. Pergerakan awalnya teridentifikasi dari waktu tiba gelombang S yang tidak jelas dan mempunyai kuat gempa yang kecil. Amplitudo gempa jenis ini sama dengan magnitude dari letusan gunung api. Gerak gempa dari jenis gempa ini berupa pergerakan naik turun ke atas dan ke bawah yang tercatat di dalam rekaman seismograf.

Gempa tremor merupakan gempa yang terjadi secara menerus di sekitaran gunung api, tipe gempa ini masih dapat di bagi lagi menjadi 2 jenis yaitu tremor harmonik berupa getaran yang menerus secara sinusoidal dimana kedalaman gempa sekitar 5 – 15 km dan tremor spasmodik yaitu berupa getaran menerus tetapi terjadi secara random. Pusat gempa bumi diprediksikan ada di kedalaman sekitar 45- 60 km. Tremor yang dihasilkan oleh letusan akan terekam berulang-ulang sehingga di rekaman seimograf nampak seperti getaran yang berkelanjutan saling bertindihan.

Gempa guguran umumnya terjadi setelah adanya letusan. Timbul karena adanya guguran lava, yang terjadi saat terbentuknya lava. Gempa guguran terekam seismograf karena hasil letusan yang menggugurkan lava hingga jatuh ke permukaan tanah karena gravitasi. Gempa guguran secara umum jarang terjadi sebab setelah letusan biasanya lava akan terbang terbawa angin.

di-4408-enz

Tumbukan antara lempeng bumi bisa memicu gempa bumi dan mempengaruhi stabilitas gunung api

Pertanyaan yang menarik dapatkah gempa bumi memicu letusan gunung api? Karena seringkali pasca gempa bumi, aktivitas gunung api semakin meningkat sehingga wajar banyak dugaan yang bermunculan bahwa menaiknya aktivitas gunung api berkorelasi dengan adanya gempa bumi sebelumnya.

Efek Kepak Sayap Kupu-Kupu

Kalau berdasarkan teori Butterfly Effect dimana dalam teori ini di jelaskan bahwa kepakan sayap kupu-kupu bisa saja menimbulkan bencana besar. Maka suatu peristiwa bencana bisa saja melahirkan bencana baru yang berkaitan sebagai suatu efek berantai. Sebagai contoh fenomena letusan gunung api dapat menimbulkan tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, dan seterusnya atau contoh lain berupa gempa yang menimbulkan tsunami dahsyat.

ButterflyEffect3

Perubahan kondisi yang kecil namun sensitif dapat menghasilkan perubahan yang sangat besar

Nah, kaitan gempa bumi dan letusan gunung api berdasarkan pengamatan para ahli memang menunjukkan adanya korelasi gempa bumi yang bisa saja menyebabkan letusan gunung api. Namun demikian, momen demikian hanya terjadi apabila gempa bumi tektonik terjadi dengan kekuatan yang sangat besar. Tidak hanya menggoyang stabilitas struktur gunung api tapi juga memicu letusan.

Sebaliknya pula bisa saja gempa bumi tersebut menghentikan aktivitas gunung api yang sedang meletus. Kedua situasi demikian bisa muncul dengan potensi yang sama besar, hanya Tuhan yang mengetahui skenario apa yang akan terjadi. Yang terpenting buat kita adalah selalu siap siaga dalam menghadapi bencana dan selalu meningkatkan mitigasi dan pengetahuan berkaitan dengan bencana yang akan datang.

Pariwara :

Related Posts

About The Author